Minggu, 22 November 2015

[IDVolunteering] Pengalaman Tak Terlupakan di Negeri Tetangga



Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, melainkan karena tak ternilai”
– Anies Baswedan.


Pada beberapa bulan lalu saya mendapatkan pengalaman yang sangat berarti. Melalui acara VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children) Cycle 4 yang dinaungi oleh VTIC Foundation saya terpilih menjadi relawan tenaga pengajar anak buruh migran di Sarawak Malaysia.
Setibanya kami di Sarawak,  kami langsung pergi ke Rajawali (sebuah nama daerah di daerah pemukiman kebun kelapa sawit) untuk diberikan penyambutan oleh warga sekitar. Pada hari itu kami langsung dibagi kedalam 13 sekolah non formal yang terdapat di Sarawak, Malaysia. Pada saat itu saya dan 2 relawan lainnya ditempatkan di Galasah yang dinaungi oleh perusahaan kelapa sawit SOPB. Pada saat itu juga kami dijemput dengan menggunakan kereta (bahasa melayu dari Mobil) menuju tempat pengabdian selama 3 minggu kedepan.
Penyambutan dari siswa dan warga setempat

Penyambutan dari pihak perusahaan

Persiapan keberangkatan menuju penempatan tiap-tiap sekolah non formal

Setibanya kami di tempat tujuan terasa sangat asing bagi saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sebuah tempat yang bertumbuhkan banyak sekali pohon kelapa sawit dengan harus membayangkan dan berfikir bagaimananya caranya saya harus bisa berbaur dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Di Galasah, saya dan rekan saya tinggal di rumah Cikgu Lela, beliau adalah cikgu setempat yang sebelumnya bekerja di ladang kelapa sawit.
Berikut adalah tempat saya tinggal selama kurang lebih 3 minggu di Galasah, Sarawak, Malaysia.

Rumah cikgu Lela
Keesokan harinya adalah hari pertama saya dan 2 rekan relawan lainnya untuk berbagi ilmu, mengajarkan dan mendidik dengan apa yang sudah saya peroleh selama kuliah dan pelatihan yang diberikan oleh VTIC Cycle 4 kepada anak-anak buruh migran. Setibanya saya di sekolah yang bernama CLC (Community Learning Center) AL-Ikhlas membuat saya berfikir, apakah ini yang namanya sekolah? Bayangkan saja ternyata anak-anak dari pahlawan devisa negara hanya bisa mengenyam pendidikan dengan fasilitas seadanya. Sekolah tersebut hanya memiliki 1 ruang kelas yang berbentuk panggung. Pembagian kelas pun tidak memiliki batas, mereka hanya dibedakan berdasarkan tempat duduk yang berbentuk seperti tempat duduk anak Taman kanak-kanak berwarna biru. Cara saya dan 2 rekan relawan lainnya dalam memberi materi kepada beberapa kelas pun hanya dengan 1 papan tulis hitam yang diberi batas dengan goresan garis horizontal. Tapi hal tersebut tidak membuat anak-anak patah semangat untuk mengenyam pendidikan. Begitupun kedua cikgu setempat dengan semangat yang besar untuk tetap terus mencerdaskan anak bangsa di negeri tetangga Malaysia.

Sekolah Dasar Al-Ikhlas Galasah






“Cikguu... Indah,, Cikgu Giaa,, Cikgu Umi,, Cikgu,, Cikgu,,” Begitulan seruan budak-budak menjemput kami untuk berangkat sekolah. Hari demi hari pun saya lewati dengan semangat dan keceriaan mereka dengan cara mereka yang menyenangkan tersebut.
Hal yang sayang dilewatkan adalah ketika saya dan rekan lainnya bisa membujuk orangtua seorang anak yang dikesehariannya hanyalah membantu orangtua mencari buah kelapa sawit yang tersisa yang bernama “Taufik” untuk melanjutkan sekolah.
Hal mengesankan lainnya adalah ketika saya bisa merasakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di negeri tetangga. Berbekal dari ilmu baris-berbaris dan tata upacara yang baik yang saya dapatkan dari keikutsertaan dalam PASKIBRA di Sekolah, saya menerapkan pengalaman tersebut kepada budak-budak untuk pelaksanaan upacara peringatan HUT RI di Galasah. Setelah beberapa hari latihan upacara, tibalah saatnya upacara tersebut dilaksanakan.
Bermodalkan keberanian, semangat yang tinggi saya, rekan VTIC Cycle 4, Cikgu Lela, Cikgu Rasnah dan murid-murid CLC Al-Ikhlas melaksanakan upacara tersebut walau hanya dalam kelas. Hal tersebut dilakukan karena dilarangnya untuk mengibarkan bendera merah putih di luar ruangan oleh pihak perusahaan dan Police Sarawak Malaysia. Berikut adalah dokumentasi kegiatan upacara HUT RI ke-70 di Sarawak Malaysia dengan menggunakan batang/gagang kain Pel sebagai tiang untuk bendera merah putih
Bendera... Siap!

Kepada sang Merah Putih.. Hormaaattt Graakk



Selain itu, perlombaan berbau 17 Agustusan pun kami buat untuk membuat budak-budak bahagia dan bisa mengalami apa yang biasanya dilakukan oleh anak-anak biasanya di Indonesia. Berkut adala dokumentasi dari perlombaan 17 Agustus di Galasah:



Berbagai cara sudah dilakukan dengan sebaik dan semaksimal mungkin untuk para anak buruh migran. Bermain, belajar, senam, mengaji dan solat berjamaah di Surau (sebutan masjid untuk warga Sarawak Malaysia) sudah kami lakukan. Semangat serta motivasi pun tak lupa kami berikan sebagai tanda sayang kami untuk mereka. Dan sampai akhirnya tibalah akhir dari kegiatan VTIC Cycle 4 yang dilaksanakan di Telabit. Acara tersebut adalah penutupan dari kegiatan VTIC Cycle 4 yang terdapat berbagai rangkaian acara seperti lomba menari, MTQ, Cerdas Cermat, Estafet, Mewarnai dan berbagai lomba lainnya.

Dalam kegiatan penutupan tersebut terasa sangat meriah. Akan tetapi ketika masa penutupan telah berakhir, keadaan yang sebelumnya penuh dengan kebahagiaan dan suka cita berubah menjadi kesedihan dan duka. Bagaimana tidak, saya dan 39 relawan lainnya harus berpisah dengan budak-budak, cikgu, dan warga sekitar yang sudah kami anggap saudara dan harus terpisah begitu saja.
Setelah acara selesai dan kembali ke Indonesia, tenyata banyak sekali perubahan yang terdapat dari anak-anak yang kami ajar. Mereka sangat bersemangat untuk belajar bahkan terdapat beberapa siswa yang bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal tersebut mengawali langkah saya untuk terus berbagi dalam hal apapun. Karena pada dasarnya sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat.


Tulisan ini dibuat untuk LombaBlog Kesukarelawanan IVD 2015 dalam rangka acara International Volunteer Day 2015 for Indonesia


                                         

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Heheh iya dongs kan kita satu tim ka :D

      Hapus
  2. bangga,bahagia, punya kawan dan saudara kaya kamu beb,,, nangis bahagia liat kawan dari kecil bahagia dan sukses,, barakallah fil umrik ya, selau doa yang terbaik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah nal, makasih banyak, gw juga selalu doakan yg terbaik buat, makasih udah selalu support, semoga pertemanan kita akan terus berlanjut sampai nanti dan selamanya :)

      Hapus

Correct me if I am wrong :)